Diduga Palsukan Akta Kelahiran Anak, Pengusaha di Tangerang Dilaporkan

banner 160x600
banner 468x60
Hartanto Jusman

Hartanto Jusman, pengusaha yang dilaporkan dugaan pemalsuan Akta Kelahiran anak di Tangerang/Foto:Ist 

Jakarta, Sudut Pandang-Hartanto Jusman, seorang pengusaha bidang pendidikan dan kesehatan di Tangerang dilaporkan ke polisi atas dugaan tindak pidana memberikan keterangan palsu ke dalam Akta Otentik. Ia dilaporkan oleh Suherman Mihardja, SH, MH, adik kandung Drg. Mareti Mihardja, istri dari terlapor.

“Saya melaporkan Hartanto Jusman atas dugaan pemalsuan Akte Kelahiran, yang sengaja memakai Akta itu seolah-olah isinya dengan kebenaran sesuai yang diatur dalam Pasal 266 ayat (1) dan (2) KUHP dengan ancaman 7 tahun penjara, serta tindak pidana perbuatan dengan sengaja berbuat sehingga asal usul seseorang menjadi tidak  tentu terkait pengangkatan anak, sebagaimana diatur dalam pasal 277 (1) KUHP dengan ancaman 6 Tahun penjara” ujar Suherman Mihardja dalam keterangan pers nya di Jakarta, Kamis (7/11/2019).

Menurut Suherman, pengusaha yang juga berprofesi sebagai pengacara itu, dalam Akte Kelahiran Marlyn Mihardja Jusman yang tercatat di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil No.474.1/819CS/199 tertanggal 11 September 1999 menyatakan bahwa Marlyn Mihardja Jusman anak pertama dari ayah Hartanto Jusman dan ibu Mareti Mihardja yang lahir pada tanggal 23 Agustus 1999 pukul 06.00 WIB dan juga tercatat dalam Kartu keluarga milik Hartanto Jusman.

“Namun dalam Penetapan Pengadilan Negeri Tangerang No.209/Pdt.P/2011/PN Tng tanggal 2011 Marlyn Mihardja Jusman adalah anak dari Antoni Liem dan Hartini Tan, itu jelas sangat bertentangan,” ungkapnya.

Suherman Mihardja juga menjelaskan, Hartanto Jusman juga telah membuat surat keterangan waris di Kantor Notaris Handoko Halim, SH dengan 04/MH/02/2019 tertanggal 14 Februari 2019. “Yang mana dalam surat keterangan waris itu seolah-olah Marlyn Mihardja Jusman selaku ahli waris yang sah, dan surat keterangan waris itu diduga telah digunakan untuk mencairkan beberapa tabungan atas nama almarhumah Mareti Mihardja oleh Hartanto Jusman bersama-sama Marlyn,” bebernya.

Ilustrasi Akta Kelahiran

Ilustrasi Akta Kelahiran

Ia juga mengungkapkan kronologi awal permasalahan yang terjadi di keluarga kakak kandungnya itu. Pada tanggal 21 Juni 2017 pukul 11.00 WIB, dirinya menelepon Hartanto Jusman untuk segera membawa Drg Mareti Mihardja yang telah menderita sakit selama 2 hari.

“Hartanto Jusman mengatakan alasannya tidak membawa ke dokter karena  itu adalah karma yang harus diterima oleh Almarhumah Mareti Mihardja, namun atas perintah saya barulah dia membawa ke rumah sakit. Akibat telat mendapatkan pertolongan medis Mareti  Mihardja mengalami koma dan stroke, pembuluh darah di otak pecah karena kekurangan oksigen,” ungkapnya.

Saat itu, lanjutnya, pelapor dalam keadaan sedih dan kecewa setelah melihat kondisi kakanya tercinta dalam keadaan koma di ruangan ICU dan Pelapor menyuruh kakak iparnya tersebut beserta staff  untuk meninggalkan rumah sakit.

“Setelah ditegur tersebut, Hartanto Jusman pulang, dan besoknya malah kabur pergi ke luar negeri selama 7 bulan meninggalkan istri yang sedang terbaring koma dan anaknya serta karyawannya hingga istrinya meninggal tanpa dihadiri oleh terlapor sebagai suami, bahkan seluruh biaya pengobatan pun hingga pemakaman dikeluarkan oleh keluarga saya,” paparnya.

Atas kejadian tersebut, timbul konflik keluarga yang diduga adanya kepentingan hak sebagai ahli waris atas aset-aset harta milik almarhumah Mareti Mihardja dengan melupakan kewajiban dan tanggung jawab terlapor sebagai suami. “Hartanto Jusman menyuruh anaknya Marlyn Mihardja Jusman untuk melakukan gugatan perdata perbuatan melawan hukum kepada saya di Pengadilan Negeri Tangerang dengan mengaku sebagai ahli waris dari almarhumah Mareti Mihardja,” tuturnya.

Gugatan itu dilayangkan atas kepemilikan sebidang tanah dan bangunan permanen yang terdiri dari 2 Sertifikat Hak Milik (SHM) No.133 seluas 380 m² dan SHM No.256 seluas 85 m², yang keduanya atas nama Mareti Mihardja. “Sebenarnya kedua sertifikat tersebut dipinjamkan oleh keluarga untuk dijaminkan ke bank sebagai modal usaha kakak saya Mareti Mihardja sebagaimana surat pernyataan yang dibuat oleh Hartanto Jusman tertanggal 16 Mei 2010, dan bukti tanda terima kedua sertifikat tersebut tertanggal 16 Mei 2010 hingga sekarang masih dikuasainya,” katanya.

“Saya telah meminta sertifikat tersebut beserta sertifikat yang lainnya yang selama ini lokasinya dipakai usaha olehnya. Namun, Hartanto tidak mau menyerahkan sertifikat tersebut sehingga saya melaporkan Hartanto di Polda Metro Jaya atas tindak pidana penggelapan sesuai dengan pasal 372 KUHP tertanggal 8 Oktober 2018 dengan Nomor Laporan TBL/5414/X/2018/PMJ/Direskrimum,” sambung Suherman Mihardja.

ADOPSI ANAK

PN Tangerang

PN Tangerang

Perbuatan Hartanto Jusman, masih menurut Suherman, terungkap dalam surat gugatan perdata tersebut. Hartanto Jusman dan Mareti Mihardja, yang mana keduanya tidak dikaruniai keturunan seorang anakpun selama perkawinan. Sehingga mereka memutuskan mengajukan permohonan untuk mengadopsi Marlyn Mihardja Jusman sebagai anak angkat yang sah dan tetal ditetapkan berdasarkan penetapan Pengadilan Negeri Tangerang. No.209/Pdt.P/2011/PN Tng tanggal 2011.

“Sebagaimana dijelaskan oleh para pemohon telah menerima penyerahan seorang anak perempuan yang diserahkan secara sukarela oleh orangtua kandungnya yang bernama Antoni Liem dan Hartini Tan untuk dirawat, diasuh, dididik dan dibiayai oleh para pemohon dan selanjutnya untuk diadopsi oleh pemohon sebagai anak kandung yang sah,” terangnya.

Suherman juga menjelaskan, sesuai bukti Akta Kelahiran yang tercatat di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil No.474.1/819CS/199 tertanggal 11 September 1999 menyatakan bahwa Marlyn Mihardja Jusman anak pertama dari ayah Hartanto Jusman dan ibu Mareti Mihardja yang lahir pada tanggal 23 Agustus 1999 pukul 06.00 WIB dan juga tercantum dalam Kartu Keluarga milik Terlapor.

Berdasarkan fakta dan bukti tersebut, Suherman menduga gugatan perdata segaja dilakukan Hartanto Jusman untuk mencoba untuk menguasai harta milik keluarga.“Sebenarnya Hartanto Jusman sudah mengetahui kalau aset tersebut sudah dibeli oleh orang tua saya dan hanya di atas namakan kakak saya dan berusaha menggalihkan permasalahan  atas laporan penggelapan beberapa sertifikat milik keluarga di Polda Metro Jaya,” katanya.

Sebelumnya, kata Suherman, Hartanto juga pernah dilaporkan oleh dirinya atas perbuatan penggelapan dalam jabatan dengan mentrasfer dana perusahaan sebesar Rp 7 miliar ke rekening pribadi. “Dalam perkara itu, Pengadilan Negeri Tangerang menjatuhkan vonis hukuman penjara selama 1 tahun, dan putusan dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Banten hingga sekarang masih dalam proses Kasasi di Mahkamah Agung,” pungkasnya.

Hingga berita diturunkan, pihak terlapor belum dapat dikonfirmasi terkait permasalahan tersebut.Red/Sp

 

 

Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Leave a reply "Diduga Palsukan Akta Kelahiran Anak, Pengusaha di Tangerang Dilaporkan"