Surati Komisi III, OC Kaligis Kembali Buka-Bukaan Tentang KPK

banner 160x600
banner 468x60
OCK

OC Kaligis bersama anak didiknya saat berada di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat/Foto:Ist

Jakarta, Sudut Pandang-Di tengah pro dan kontra revisi UU KPK, Pengacara senior Prof. Otto Cornelis Kaligis atau yang akrab disapa OC Kaligis kembali buka-bukaan tentang permasalahan yang terjadi di lembaga antirasuah tersebut.

Hal ini disuarakan OC Kaligis, sebagai warga binaan Lapas Sukamiskin Bandung dalam surat permohonan keadilan yang dilayangkan kepada Komisi III DPR-RI. Ia menegaskan, akan terus menyuarakan ketidakadilan yang dilakukan oleh KPK meski dirinya berada didalam jeruji besi.

Dalam surat No:113/OCK/VIII/2019 Tertanggal 28 Agustus 2019, OC Kaligis, ia berharap semua perkara yang menjerat mantan pejabat KPK dan temuan hasil Pansus Angket DPR untuk ditindaklanjuti ke pengadilan. “

Surat ini akan menjadi catatan sejarah warga binaan, yang telah menjadi korban dan target KPK,” kata OC Kaligis dalam suratnya diterima wartawan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (10/9/2019).

Ia mengungkapkan, ketidakadilan itu terlihat dalam perkara yang menjerat mantan komisioner KPK. Meski sudah sudah dinyatakan lengkap (P-21), perkara tidak disidangkan.

“Apabila hal yang sama dilakukan oleh pengacara, kecuali kalau pelakunya ex komisioner KPK Bambang Widjoyanto, maka sang pengacara yang bersangkutan langsung dijerat pidana oleh KPK dengan dakwaan menghalang halangi pemeriksaan. Contoh korban adalah pengacara Lucas dalam perkara Eddy Sundoro atau Fredrich Yunadi dalam perkara Setya Novanto," ungkap OC Kaligis.

Temuan Pansus Angket DPR

Ilustrasi

Ilustrasi

OC Kaligis juga berharap hasil temuan Pansus Hak Angket DPR untuk ditindaklanjuti. Di antaranya tentang kesaksian Niko Panji Tirtayasa alias Miko, saksi kasus suap mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Muchtar, terkait menyuruh memberikan keterangan palsu.

“Kemudian, ketika saksi Miryam menarik keterangannya sebagai saksi dalam persidangan e-KTP dengan alasan karena ditekan atau diarahkan oleh penyidik KPK, dilawan KPK dengan berita media bahwa penarikan keterangan BAP tersebut dapat dipidana dengan sangkaan kesaksian palsu,” katanya.

“Anehnya, ketika Pansus DPR memanggil Miryam untuk didengar keterangannya, KPK menolak menghadirkan Miryam untuk didengar keterangannya. KPK takut praktik kebiasaan mengintimidasi mengarahkan saksi sesuai kehendak KPK. Bila Miryam hadir di depan Pansus DPR, KPK akan dikuliti habis. Akhirnya tuduhan memberi kesaksian palsu di depan persidangan karena Miryam menarik keterangannya, berita di petieskan,” tambah OC Kaligis.

Masih menurut OC Kaligis, hal ini juga terjadi dalam perkara Novel Baswedan. Publik mengetahui bagaimana kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK ini bukan saja menjadi berita nasional tetapi juga sudah mendunia.

“Sampai-sampai melibatkan lembaga hak asasi internasional. Polisi dituding habis-habisan sebagai penyidik yang tidak profesional. Masyarakat terbius dan lupa akan putusan Pengadilan Negeri Bengkulu yang memerintahkan agar perkara penganiayaan dan pembunuhan Novel Baswedan dilanjutkan ke pengadilan,” ungkapnya.

Ia mengaku telah banyak membuat surat agar keadilan dan peradilan juga berlaku bagi oknum KPK. Namun, ia menilai sampai saat ini oknum tersebut masih kebal hukum. KPK ogah perkaranya disidangkan ke pengadilan dengan alasan bahwa KPK tidak mempercayai pengadilan ketika KPK sendiri yang terlibat.

"Namun sebaliknya, jika KPK menangani perkara walaupun tidak cukup bukti, dalih KPK selalu berbunyi biar Pengadilan yang memutuskan. Semoga semua perkara KPK termasuk kejahatan KPK yang ditemui dalam Pansus DPR terhadap KPK, dapat segera dilumpahkan ke Pengadilan, termasuk perkara dugaan korupsi Payment Gateway Prof Denny Indrayana," pungkas OC Kaligis dalam suratnya dengan tembusan kepada Presiden Jokowi itu.Red/Sp

Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Leave a reply "Surati Komisi III, OC Kaligis Kembali Buka-Bukaan Tentang KPK"