Terungkap di Persidangan, RS Ariya Medika Terancam Bangkrut Akibat Perbuatan Terdakwa

banner 160x600
banner 468x60
Sidang perkara dugaan penggelapan dengan terdakwa Hartanto Jusman di Pengadilan Negeri Tangerang, Rabu ((23/1/2019).

Sidang perkara dugaan penggelapan uang perusahaan Rp 7 miliar dengan terdakwa Hartanto Jusman di Pengadilan Negeri Tangerang, Rabu ((23/1/2019). 

Tangerang, Sudut Pandang-Suherman Mihardja, SH, MH, sebagai saksi pelapor kasus dugaan penggelapan uang perusahaan senilai Rp 7.000.000.000, (Tujuh Miliar Rupiah) dengan terdakwa Hartanto Jusman dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam persidangan di Pengadilan Negeri Tangerang, Rabu (23/1/2019) lalu.

Di hadapan Majelis Hakim pimpinan Dr.I.Ketut Sudira, SH, MH, ia menceritakan perbuatan terdakwa selaku Direktur Utama PT Bumi Sejahtera Ariya (PT BSA) yang mengakibatkan RS Ariya Medika terancam bangkrut.

“Bahwa perbuatan Direktur Utama PT BSA tersebut dengan memindahkan uang perusahaan ke rekening pribadi sebesar Rp 7 Miliar, yang kemudian terdakwa kabur dari Indonesia selama 7 bulan tanpa diketahui keberadaannya hingga Febuari 2018 baru kembali ke Indonesia setelah dideportasi oleh pihak imigrasi Malaysia karena melebihi batas waktu tinggal,” ungkap Suherman Mihardja dalam persidangan.

Sebelum mengambil langkah hukum, Suherman Mihardja yang juga Pengacara itu, telah berusaha menghubungi terdakwa dan keluarganya namun tidak ada yang mengetahui keberadaannya.

“Kemudian saya ditindak lanjuti dengan mengirimkan somasi via pesan WhatsApp pada Hp terdakwa sebanyak 2 kali, yaitu tanggal 3 Juli 2017 dan 17 Juli 2017 untuk segera mengembalikan dana milik perusahaan, karena tidak ada tanggapan dan itikad baik dari terdakwa Hartanto Jusman, saya kemudian melaporkannya ke Polres Metro Tangerang tertanggal 7 Agustus 2017,” terangnya.

Pada persidangan, Suherman Mihardja menjelaskan mengenai kepemilikan saham di perusahaan PT BSA. Tercatat 3 orang pemegang saham yaitu Mareti Mihardja (Komisaris) yang juga kakak kandungnya, dan istri dari Hartanto Jusman memiliki 250 saham, dan terdakwa sebagai Direktur Utama memiliki 175 Saham, serta dirinya sebagai Direktur dengan jumlah 75 saham.

“Akibat perbuatan terdakwa tersebut perusahaan PT BSA, tidak mempunyai dana operasional, baik untuk biaya pembayaran jasa medis, gaji karyawan dan obat-obatan, sehingga saya harus menggunakan uang pribadi untuk melanjutkan operasional pelayanan di bidang kesehatan terhadap masyarakat di RS Ariya Medika,” katanya.

Ia menuturkan, sejak perusahaan ini berdiri sampai adanya masalah tersebut, dirinya tidak ikut dalam operasional dan management, karena sepenuhnya diserahkan kepada terdakwa dan kakaknya Mareti Mihardja. Termaksud dalam melakukan proses pembayaran yang melakukan pembukaan cek dan giro atas nama PT BSA.

Memindahkan Uang Perusahaan ke Rekening Pribadi

“Perlu diketahui, bahwa terdakwa juga selalu memindahkan uang dari rekening PT BSA ke rekening pribadinya setiap akhir bulan, dan disetorkan kembali ke rekening PT BSA pada awal bulan, namun hasil dari pemindahan dana tersebut terdakwa mendapat keuntungan bunga, dan keuntungan bunga tersebut tidak diserahkan ke perusahaan karena hanya pokoknya saja,” ungkap Suherman.

Pada kesempatan itu, Suherman juga mengungkapkan, bahwa Mareti Mihardja (Komisaris) PT BSA istri terdakwa mengalami sakit selama 2 hari, namun baru dibawa ke RS Mayapada pada tanggal 21 Juni 2017 atas perintah dirinya kepada Hartanto Jusman. Dikarenakan kondisinya sudah parah, sehingga Mareti Mihardja dinyatakan dalam keadaan koma, dan mengalami stroke sehingga dimasukan ke unit ICU, akhirnya meninggal dunia pada tanggal 22 September 2017.

“Pada saat istri terdakwa meninggal dunia, terdakwa Hartanto Jusman tidak mengetahuinya, karena sejak terdakwa memindahkan dana perusahaan ke rekening pribadi pada tanggal 22 Juni 2017, keesokan harinya terdakwa kabur meninggalkan istri dan anak serta perusahaannya, selama 7 bulan ke luar negeri dan baru kembali Febuari 2018,” papar Suherman.

Dalam perkara ini, JPU menjerat terdakwa Hartanto Jusman ( 56 ) dengan Pasal 374 dan 372 KUHP atas perbuatanya menggelapkan uang milik perusahaan senilai Rp 7 miliar.Red/Sp

Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Leave a reply "Terungkap di Persidangan, RS Ariya Medika Terancam Bangkrut Akibat Perbuatan Terdakwa"