Mulai 1 Oktober 2018, Tarif Bongkar Muat di Pelabuhan Tanjung Priok Naik

banner 160x600
banner 468x60
Ketua APBMI DKI Jakarta Juswandi Kristanto (tengah) didampingi pengurus saat mengumumkan kenaikan OPP/OPT di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Jumat (21/9/2018).

Ketua APBMI DKI Jakarta Juswandi Kristanto (tengah) didampingi pengurus saat mengumumkan kenaikan OPP/OPT di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Jumat (21/9/2018). 

Jakarta,Sudut Pandang-Terhitung mulai tanggal 1 Oktober 2018, tarif pelayanan bongkar muat kargo umum nonkontainer di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta naik rata-rata 5% hingga 20%.

Penyesuaian tarif bongkar muat atau ongkos pelabuhan pemuatan dan ongkos pelabuhan tujuan (OPP/OPT) di Pelabuhan Tanjung Priok itu merujuk pada kesepakatan asosiasi penyedia dan pengguna jasa di pelabuhan tersebut pada Agustus 2018.

Kesepakatan tersebut ditandatangani Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) DKI Jakarta, DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jakarta, Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) DKI, DPC Indonesia National Shipowners Association (INSA) Jaya, dan disaksikan Manajemen PT.Pelindo II Tanjung Priok dan Kantor Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok.

“Kenaikan tarif OPP/OPT di Pelabuhan Tanjung Priok ini, selain dikarenakan tarif tersebut belum pernah mengalami penyesuaian sejak 2015, upah tenaga kerja bongkar muat (TKBM) naik rata-rata di atas 10% setiap tahunnya,” ujar Ketua APBMI DKI Jakarta Juswandi Krisanto di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Jumat (21/9/2018).

Juswandi menjelaskan, jika pada tahun 2015 upah buruh pelabuhan atau anggota TKBM Pelabuhan Tanjung Priok hanya Rp150.571 per orang, kini naik menjadi Rp190.000 per orang.

"Kalau diakumulasi dalam 3 tahun terakhir, upah TKBM itu sudah naik sekitar 30%, tetapi ongkos bongkar muat belum pernah ada penyesuaian. Padahal komponen upah buruh itu merupakan item terbesar cost kegiatan bongkar muat, bahkan mencapai 45 persen," jelasnya.

“Kami berupaya melakukan pendekatan kepada instansi terkiat dan asosiasi terkait penyesuaian OPP/OPT, upaya yang kami lakukan itu membuahkan hasil, akhirnya para pelaku usaha di Pelabuhan Tanjung Priok telah menyepakati  penyesuaian kenaikan tarif tersebut,” tambah Juswandi.

Juswandi berharap adanya penyesuaian tarif OPP/OPT semakin meningkatkan tingkat pelayanan dan percepatan bongkar muat kargo nonkontainer yang dilaksanakan perusahaan bongkar muat (PBM) di pelabuhan tersibuk di Indonesia itu sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan pemerintah.

BERLAKU 2 TAHUN

Sekretaris DPW APBMI DKI Jakarta Aria Senopati Lihu turut menambahkan, kesepakatan kenaikan tarif OPP/OPT tersebut berlaku hingga 2 tahun. "Ini didasari karena adanya penyesuaian upah buruh yang sudah empat kali naik, sedangkan OPP/OPT yang digunakan saat ini yakni yang berlaku 2013-2015. Padahal setiap tahun ada kenaikan UMR upah minimum regional (UMR)," ucapnya.

“Penyesuaian tarif OPP/OPT di Pelabuhan Tanjung Priok itu tidak berlaku bagi layanan kontainer domestik maupun internasional,” sambung Aria.

Berdasarkan kesepakatan penyedia dan pengguna jasa pelabuhan Priok itu, terhitung 1 Oktober 2018, tarif bongkar muat (OPP/OPT) untuk barang general cargo yang dilayani melalui gudang naik 7,4% dari sebelumnya Rp.81.075 per ton menjadi Rp.87.081 per ton.Apabila dilayani via truck losing (TL) naik 12% dari Rp57.720 per ton menjadi Rp64.655 per ton.

Untuk kargo curah kering lewat kapal naik 7% dari Rp47.000 per metrik ton (MT) menjadi Rp50.290 per MT. Selain itu, untuk curah cair internasional naik 20% dari Rp26.000 per MT menjadi Rp33.600 per MT. Kemudian OPP/OPT untuk layanan kargo curah cair domestik yang sebelumnya Rp23.000 per MT naik 20% menjadi Rp27.600 per MT, sedangkan untuk layanan bongkar muat hewan ternak, kendaraan niaga maupun bus atau truk naik 5%.Red/Pah

Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Leave a reply "Mulai 1 Oktober 2018, Tarif Bongkar Muat di Pelabuhan Tanjung Priok Naik"